Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku menghubungi kepala sekolah melalui pesan dan panggilan WhatsApp. Dalam komunikasinya, pelaku memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari salah satu media online dan sempat menyebutkan akan melakukan rilis berita terkait anggaran Dana BOS sekolah.
Namun, dalam percakapan selanjutnya, oknum tersebut mulai mengarah pada permintaan bantuan dana dengan dalih kondisi darurat keluarga.
Merasa curiga, kepala sekolah tidak langsung menanggapi permintaan tersebut. Ia kemudian melakukan verifikasi terhadap identitas pelaku, termasuk menelusuri media yang disebutkan.
“Hasil penelusuran menunjukkan tidak adanya keterkaitan antara pelaku dengan institusi pers yang sah,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi para kepala sekolah dan instansi pendidikan lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pihak-pihak yang mengaku sebagai jurnalis namun memiliki motif yang tidak jelas.
Praktik penyalahgunaan profesi pers seperti ini tidak hanya berpotensi merugikan secara materi, tetapi juga mencoreng kredibilitas dunia jurnalistik.
Pihak sekolah juga mengimbau agar setiap bentuk permintaan dana yang mencurigakan segera dilaporkan kepada pihak berwenang. Selain itu, masyarakat diminta untuk memastikan identitas wartawan melalui organisasi pers resmi, serta meminta kartu identitas dan surat tugas yang valid sebelum memberikan informasi maupun bantuan dalam bentuk apa pun.
Hingga saat ini, belum terdapat laporan resmi terkait kerugian materi dalam kasus tersebut. Namun, upaya penelusuran terhadap pelaku masih terus dilakukan.
(Red KJK)

0 Komentar