![]() |
| Keterangan Foto: Kondisi salah satu Saung Kuliner Laksa di Kota Tangerang yang atapnya rusak parah dan hanya ditutup terpal seadanya. Bangunan reyot ini sudah lama dikeluhkan pedagang karena membahayakan sekaligus membuat pengunjung enggan datang. |
Pantauan di lokasi, beberapa saung sudah mengalami kerusakan parah: atap bocor, dinding rapuh, hingga lantai yang lapuk dimakan usia. Kondisi ini membuat para pedagang—yang sejak lama menggantungkan hidup dari menjual laksa—merasa diabaikan.
“Kami ingin pemerintah kota turun tangan. Saung ini kan simbol kuliner khas Tangerang, masa dibiarkan rusak begini?” keluh seorang pedagang laksa yang enggan disebut namanya.
Keresahan tak berhenti di situ. Para pedagang menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar soal tempat berdagang, melainkan juga soal pelestarian budaya kuliner lokal.
“Kalau kondisinya seperti ini, siapa yang mau datang? Pengunjung makin sepi. Padahal laksa ini warisan budaya, harusnya dijaga,” tambah pedagang lainnya dengan nada kecewa.
Saung Kuliner Laksa, yang dulu sempat menjadi destinasi kuliner unggulan dan kebanggaan Kota Tangerang, kini terancam mati suri akibat minimnya perawatan. Padahal, tempat ini dibangun dengan tujuan mulia: mendukung UMKM sekaligus mengenalkan laksa sebagai identitas kuliner Tangerang.
Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Pariwisata maupun instansi terkait mengenai kondisi bangunan dan desakan pedagang untuk segera dilakukan renovasi.
Para pedagang kini hanya bisa berharap pemerintah kota tak menutup mata. Mereka menunggu aksi nyata, bukan sekadar janji manis, agar Saung Kuliner Laksa kembali hidup sebagai ikon wisata kuliner sekaligus warisan budaya Tangerang.
>Red/KJK

0 Komentar