Sebanyak 20 anggota NOSATA hadir sebagai instruktur membatik dan didampingi para guru untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa MI Al-Husna. Antusiasme tampak dari ratusan siswa yang bersemangat mencoba teknik dasar membatik, belajar tentang proses kreatif, sekaligus memahami makna kesabaran dan kerja sama dalam berkarya.
“Kegiatan ini ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berbagi ilmu dan menciptakan karya. Justru dengan membatik bersama, kita belajar kesabaran, kreativitas, dan pentingnya saling mendukung,” ungkap Anit, Pembina Kelompok NOSATA.
Pihak sekolah pun menyampaikan apresiasi atas program yang tidak hanya mengenalkan seni batik, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan. “Anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Ini adalah pelajaran berharga yang tak kalah penting dari pelajaran di kelas,” ujar Dodi, Kepala Sekolah MI Al-Husna.
Melalui kegiatan ini, UBP Lontar tidak hanya memperkenalkan seni budaya Indonesia, tetapi juga meneguhkan semangat inklusivitas di tengah keberagaman. Anak-anak mendapat pengalaman langsung berinteraksi dengan instruktur disabilitas, sehingga dapat mengikis stigma negatif serta menumbuhkan rasa saling menghargai.
Dengan semangat kebersamaan, pelatihan membatik ini diharapkan menjadi langkah awal menuju terciptanya ruang pendidikan yang lebih ramah, inklusif, dan berkelanjutan di Desa Lontar.
>Red

0 Komentar