Seorang warga Blok I, yang enggan disebutkan namanya, menyuarakan kekecewaannya. "Pemerintah jangan hanya omong kosong. Apa mereka mau menenggelamkan Perumahan Binong?" ujarnya dengan nada geram.
Hal senada disampaikan Bambang, warga RT 004/RW 014. Menurutnya, debit air kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya. "Di Gang Kudus 2 yang dulu tak pernah kebanjiran, sekarang air sudah masuk rumah. Ini sudah kelewatan," tegasnya.
Keluhan juga datang dari Ibu Linda, warga RW 013. Ia menuturkan bahwa banjir terjadi meski hujan hanya berlangsung sekitar satu setengah jam. "Saya mohon kepada Bupati, Wakil Bupati, Dinas terkait, dan DPRD Kabupaten Tangerang, tolong dengarkan keluhan kami. Jangan hanya fokus membangun, tapi abaikan dampaknya. Segera bangun tandon, bukan hanya bangunan baru," desaknya.
Ketua RT 003/RW 014, Yanto, mengungkapkan bahwa banjir semakin meluas dan menggenangi rumah-rumah yang lantainya tidak ditinggikan. "Ketinggian air bisa mencapai 50 hingga 80 cm. Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus," ujarnya.
Warga menduga banjir diperparah oleh proyek-proyek perumahan baru, termasuk pembangunan oleh pengembang besar seperti Lippo Group di wilayah Curug Wetan, yang dinilai tidak memperhatikan analisis dampak lingkungan (Amdal) dan Peil banjir. "Kami lelah. Sampai kapan banjir ini akan dibiarkan tanpa solusi nyata?" tambah Ketua RT.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Tangerang, Iwan Firmansyah Effendi, S.Sos, M.Si, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi lintas instansi. "Terima kasih atas informasinya. Kami terus berupaya menangani permasalahan di Kali Sabi, meski kewenangannya berada di Dirjen SDA Kementerian PUPR," jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa sumbatan aliran Kali Sabi berada di wilayah Cibodas, Jatiuwung, Kota Tangerang, sehingga diperlukan sinergi dengan pemerintah kota dan pusat. Selain itu, Pemkab Tangerang berencana membangun kolam retensi (tandon) pada tahun 2026 sebagai upaya jangka pendek untuk mengurangi durasi dan luas genangan air.
"Kami berkomitmen untuk mencari solusi yang efektif demi kenyamanan dan keselamatan warga Binong Permai," pungkas Iwan.
Kini, warga hanya bisa berharap agar janji-janji tersebut tidak lagi menjadi "omong kosong." Mereka menantikan tindakan nyata yang dapat membawa perubahan dan mengakhiri derita tahunan akibat banjir.
Red/KJK


0 Komentar