Salah satu orang tua mengungkapkan kesedihannya karena sang anak belum bersekolah dan enggan keluar rumah akibat merasa malu dengan teman-temannya yang telah lebih dulu diterima.
“Sampai sekarang anak saya belum sekolah, keluar rumah saja tidak mau, karena malu dengan teman-temannya yang sudah diterima di SMKN 2. Bahkan untuk berinteraksi dengan orang lain pun enggan. Kami sangat berharap ada kuota tambahan,” ungkapnya pada Sabtu pagi (26/07/2025).
SMKN 2 Kabupaten Tangerang dikenal sebagai salah satu sekolah kejuruan favorit di wilayah tujuh kecamatan, sehingga tiap tahunnya selalu dipadati oleh ribuan pendaftar. Sayangnya, daya tampung sekolah tersebut hanya sekitar tujuh ratus siswa, jauh dari jumlah pendaftar yang mencapai ribuan.
“Anak saya sudah mengikuti seluruh proses seleksi sesuai prosedur dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Kami berharap pemerintah bisa turun tangan, karena anak saya hanya ingin sekolah di SMKN 2,” tambahnya.
Ketua RW setempat turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ini. Ia menyayangkan kurangnya komunikasi dan perhatian dari pihak sekolah terhadap warganya yang terdampak.
“Kami sebagai ketua RW tentu lebih dulu mengetahui situasi di lingkungan kami. Namun, sangat disayangkan pihak sekolah seolah tidak peduli. Padahal banyak anak yang masih berharap bisa bersekolah di SMKN 2,” ujar ketua RW.
Di tempat yang sama, beberapa orang tua lainnya menyatakan kesediaan untuk menunggu informasi lebih lanjut mengenai kemungkinan adanya siswa cadangan atau pengunduran diri dari siswa yang sudah diterima.
“Kami berharap pemerintah daerah dan pihak sekolah bisa memberikan solusi yang adil. Pendidikan adalah hak semua anak bangsa,” tegas salah satu orang tua lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Pendidikan Provinsi Banten belum memberikan pernyataan resmi terkait kemungkinan dibukanya kuota tambahan atau gelombang susulan SPMB.
>Red/KJK
0 Komentar